Loading...

Bumi Lebak, Banten, Jadi Model Korporasi Petani

17:03 WIB | Thursday, 26-April-2018 | Pangan, Komoditi | Penulis : Gesha

Hamparan lahan kosong dan sela-sela tanaman kayu putih di Kecamatan Gunung Kencana, Kabupaten Lebak, Banten kini telah berubah. Tak lagi semak belukar, tapi merupakan hamparan lahan jagung. Setidaknya ada sekitar 1.000 ha yang menjadi kawasan pertanian.

 

Pengembangan lahan jagung dalam skala luas tersebut menjadi sebuah percontohan pembentukan korporasi kelembagaan petani di Kabupaten Lebak. Seperti diketahui, pemerintah kini mendorong tumbuhnya korporasi kelembagaan petani untuk meningkatkan posisi tawar.

 

Sebagai implementasinya, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) menerbitkan Peraturan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian Nomor: 211/Kpts/SM.060/I/12/2017 tentang Pedoman Pembentukan dan Pengelolaan Badan Usaha Milik Petani.

 

Salah satu pilot project pengembangan kawasan pertanian berbasis korporasi petani berada di Provinsi Banten. Lokasinya berada di Kecamatan Gunung Kencana yakni di Desa Bulakan, Gunung Kendeng, Kramatjaya dan Tanjungsari Indah. Kementerian Pertanian menargetkan pada tahun 2018-2019 ini ada empat kegiatan pilot project, mulai dari komoditas jagung (Banten), bawang merah (Malang) , kakao (Kolaka Timur) , dan sapi potong (Subang).

 

Kabid Penyelenggaraan Penyuluhan BPPSDMP, Zahron Helmy menuturkan, pilot project ini menjadi salah satu strategi pemerintah memberdayakan petani dalam membangun kemandirian. Selain itu, menjadi pendorong petani agar mampu berusaha tani berbasis skala ekonomi dan berorientasi agribisnis dan komersil.

 

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Agus M Tauchid saat Gerakan Tanam Perdana Pilot Project Pengembangan Kawasan Jagung Berbasis Korporasi Petani di Kabupaten Lebak, Kamis (26/4) mengatakan, di Banten lahan pertanian terluas berada di Lebak. Pengembangan jagung di Banten sangat strategis, karena dekat pasar, khususnya industri pakan ternak yang jumlahnya mencapai 16 perusahaan.

 

Catatana Dinas Pertanian Banten, kebutuhan jagung untuk industri pakan sebanyak 1,6 juta ton/tahun atau sekitar 4.600 kg/hari jagung pipil kering. Kebutuhan yang besar dan kedekatan jarak dengan pabrik pakan inilah yang menurut Tauchid harus bisa dimanfaatkan masyarakat tani.  

 

Kepala Bagian Perencanaan Ditjen Tanaman Pangan, Ugi Sugianto menuturkan, petani tak hanya bertanam konvensional yaitu budidaya saja tapi juga diajari aspek pengolahan dan pemasarannya sehingga menjadi satu bentuk korporasi petani. "Untuk mewujudkannya kita berikan bantuan traktor, ekskavator bahkan dryer. Dengan bantuan dan pendampingan, kita harapkan produknya bisa mencapai 8ton/ha dan mampu memasok pasar," paparnya.

 

Pintu pemasaran sendiri telah dibuka Kementerian Pertanian dengan kesepakatan bersama PT Charoend Pokphand Indonesia (CPI) yang bersedia menyerap hasil panen petani di kawasan pertanian jagung ini. Harganya, Rp 3.800/kg dan tingkat kekeringan 15%. 

 

Lahan Perhutani

 

Lahan seluas 1000 ha yang akan menjadi kawasan pertanian jagung di Kabupaten Lebak tersebut terdapat di 4 desa yang saling berdekatan yaitu Desa Gunung Kendeng, Desa Bulakan, Desa Tanjungsari dan Desa Kramat Jaya.  Keempat desa tersebut berada pada kawasan pengelolaan lahan Perhutani, sehingga nantinya pertanaman jagung berada di bawah tegakan batang pohon minyak kayu putih, sehingga petani maupun LMDH mendapatkan pendapatan musiman dari jagung dan pendapatan tahunan dari kayu putih. 

 

Korporasi petani yang bisa terbentuk terdiri dari kelompok tani dari Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dan Kelompok Tani yang bersinergi bersama BUMDes Bulakan yang sudah ada. 

 

Administratur Perhutani KKPH Banten, Hendri Gunawan menuturkan, lahan Perhutani bisa dimanfaatkan masyarakat untuk bertanam selain hasil kayu atau perkebunan. “Kami siap jika Kementerian Pertanian melalui Dinas Pertanian di daerah menginginkan lahan yang lebih luas,” katanya. 

 

Ketua LMDH Bulakan, Wawan menuturkan, dengan adanya bantuan pemerintah dan kerjasama dengan industri pakan serta perbankan, pilot project penanaman perdana jagung berbasis korporasi mampu berproduksi 8 ton/ha menjadikan petani makmur dengan bisnis jagung.  Gsh

 

         

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162