Loading...

Gantikan Ganja di Aceh, Kementan Kembangan Tanaman Alternatif

12:15 WIB | Tuesday, 27-February-2018 | Nasional | Penulis : Kontributor

Staf Ahli Menteri,Mukti Sardjono saat penanaman perdana kopi

 

 

Aceh menjadi salah satu provinsi yang terkenal dengan penghasil ganja. Untuk menggantikan tanaman yang merupakan bahan baku narkoba ini, pemerintah melalui Badan Narkotik Nasional (BNN) mengembangkan program alternatif development.

 

Untuk mendukung program tersebut, Staf Ahli Menteri Pertanian mewakili Menteri Pertanian, Mukti Sardjono mengatakan, Kementerian Pertanian mengalokasikan penyediaan alat mesin pertanian (alsintan) berupa traktor roda 2 sebanyak 25 unit, pompa air 10 unit, rice transplanter 5 unit, hand sprayer 50 unit, alat tanam jagung 30 unit dan cultivator 15 unit.

 

Saat Tanam Perdana Program Alternative Development di Gampong Agusen Kabupaten Gayo Lues, Aceh, Mukti juga mengungkapkan, untuk Tahun Anggaran 2018 Kementerian Pertanian telah mengalokasikan beberapa kegiatan di Kabupaten Gayo Lues.

 

Pertama, pengembangan tanaman pangan yakni jagung hibrida seluas 2.050 ha dan padi gogo seluas 310 ha. Kedua, tanaman perkebunan untuk kegiatan intensifikasi kopi  200 ha dan peremajaan kopi  400 ha. Ketiga, tanaman hortikultura berupa pengembangan cabe merah 25 ha dan bawang putih 10 ha.

 

Pada acara tersebut dihadiri juga Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal  Budi Waseso, Wakil Gubernur Aceh Nova Iriansyah, Bupati Gayo Lues, Anggota DPR RI, DPRA, DPRK, Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Lingkungan mewakili Menteri Pertanian, wakil dari KLHK, Kementerian Koperasi, pejabat Kabupaten Gayo Lues.

 

Bupati Gayo Lues, Muhammad Amru menyampaikan terima kasih kepada BNN dengan adanya Program Alternative Development yang di pusatkan di Gampong Agusen Kab. Gayo Lues. Menurutnya, wilayah ini merupakan  salah satu daerah penghasil ganja. Saat ini ada sekitar 900 orang masyarakat Gayo Lues yang ditangkap karena kasus narkotika, dan 1.800 orang yang menjadi buron.

 

“Kami mengusulkan kepada Kementerian Pertanian untuk memberikan bantuan pengembangan kopi arabika dan tanaman prospektif lainnya yang secara agroklimat dapat dikembangkan,” kata Amru.

 

Dalam kesempatan tersebut Budi Waseso menegaskan, Indonesia saat ini dalam status Darurat Narkoba. Korban Narkoba saat ini sudah kita jumpai hampir di semua lapisan masyarakat, dari orang dewasa sampai Balita.

 

Dampak  penyalahgunaan narkoba telah merugikan bangsa dan generasi mudanya baik kerusakan fisik, psikis, sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan bangsa.  “Untuk itu kita menyatakan perang terhadap narkoba, “ tegas Budi.

 

Pemerintah melalui BNN telah mendesain program Alternative Development (AD) yaitu sebuah program khusus untuk mengganti tanaman penghasil narkotika dengan tanaman pertanian. BNN juga melakukan berbagai pelatihan kepada lapisan masyarakat. Bahkan kini BNN sedang menyiapkan INPRES, sehingga program ini dapat terdukung semua pihak dapat terlaksana seperti yang diharapkan.*/Yul

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162