Loading...

Penanaman Hijauan Makanan Ternak secara Vegetatif dan Generatif

11:46 WIB | Tuesday, 08-March-2016 | Mimbar Penyuluhan | Penulis : Kontributor

Hijauan makanan ternak (HMT) merupakan semua bahan yang berasal dari tanaman dalam bentuk daun daunan. Kelompok hijauan makanan ternak meliputi famili rumput (gramineae), leguminosa dan hijauan dari tumbuhan lain (seperti daun waru, nangka, dsb) serta limbah industri pertanian. Hijauan sebagai pakan ternak dapat diberikan dalam keadaan segar dan dalam keadaan kering. Hijauan sebagai makanan ternak, hijauan memegang peranan sangat penting. Hal ini disebabkan hijauan mengandung hampir semua zat yang diperlukan hewan. Sebagian besar pakan ruminansia adalah bahan pakan yang berserat tinggi dengan kecernaan rendah, oleh karena itu harus diusahakan agar ternak sebanyak mungkin mengkonsumsi makanan untuk mencukupi kebutuhannya akan zat-zat makanan. Dalam pengembangan ternak ruminansia di Indonesia, hijauan makanan ternak adalah faktor yang sangat penting dengan komposisi yang terbesar yaitu 70-80% dari total biaya pemeliharaan. Kebutuhan hijauan akan semakin banyak sesuai dengan bertambahnya jumlah populasi ternak yang dimiliki.

 

Dengan kebutuhan yang semakin meningkat, tentu sangat diperlukan penyediaan pakan yang cukup dan berkesinambungan. Penanaman hijauan makanan ternak merupakan salah satu bagian terpenting dalam budidaya karena menyangkut efisiensi biaya dan tenaga kerja yang digunakan. Sistem penanaman hijauan makanan ternak biasanya disesuaikan dengan kondisi kemiringan tanah. Penanaman biasanya dilakukan atas dasar kebiasaan masyarakat setempat agar pekerja lokal tidak harus mempelajari cara tanam yang baru, sepanjang sesuai dengan kebutuhan perlakuan hijauan makanan ternak yang ditanam.

 

Penanaman hijauan pakan ternak biasanya dilakukan pada awal musim penghujan setelah tanah terolah sempurna. Sebelum dilakukan penanaman, maka perlu untuk memilih jenis hijauan yang paling baik adaptasinya terhadap iklim dan tanah setempat. Tidak ada hijauan yang dapat tumbuh dengan baik di semua tempat. Ada yang tumbuh baik pada tanah asam, lainnya tidak. Hijauan dapat bertahan hidup di daerah yang tidak cocok baginya, namun pertumbuhannya tidak akan baik. Faktor iklim dan tanah yang penting dan berpengaruh terhadap adaptasi hijauan adalah lamanya musim kemarau, suhu, kesuburan tanah, pH tanah dan drainase.

 

Penanaman Bibit Hijauan

 

Penanaman bibit hijauan menggunakan bahan yang berkualitas baik agar sesuai dengan lingkungan, mudah dikembangkan dan dikelola serta memberikan produksi tinggi. Penggunaan bibit tanam yang baik akan memberikan efisiensi waktu, tenaga dan biaya serta memberikan jaminan pertumbuhan yang dikehendaki dan tidak muncul faktor-faktor penghambat. Penanaman dapat dilakukan secara vegetatif maupun generatif. Secara umum, petani kecil lebih memilih menanam secara vegetatif disebabkan lebih mudah dan dapat diandalkan (terutama untuk kebanyakan jenis rerumputan), perkembangannya cepat, pendangiran antar petakan mudah dilakukan tanah tidak harus diolah dengan baik, bibit tersedia secara lokal dan dapat juga ditanam menjelang akhir musim hujan, sedangkan biji harus ditanam pada awal musim hujan. Sebaiknya pengambilan bibit vegetatif dari sebanyak mungkin tanaman untuk memaksimalkan variasi genetis. Hal ini dapat mengurangi resiko kerentanan terhadap serangan penyakit dan serangga. Secara vegetatif berupa sobekan rumpun (pols), potongan batang (stek), stolon dan secara generatif melalui biji.

 

Stek adalah cara tanam yang menggunakan batang sebagai media tanam, stek diambil dari batang tua dan sehat serta minimal terdapat 2 ruas calon bibit. Sebagai contoh, pada penanaman rumput gajah dengan stek, stek yang akan ditanam adalah batang yang tidak terlalu muda. Kemudian dipotong-potong sepanjang 20-30 cm, sehingga terdapat 2 sampai 3 buku (ruas) setiap potongannya. Bagian bawah pada bibit berujung lancip untuk memudahkan dalam penancapan stek ke tanah. Stek batang ditanam miring dengan posisi 30-40 derajat. Kedudukan pada stek lebih baik miring untuk memudahkan pertumbuhan bibit. Kemudian ditanam dengan 1-2 buku masuk ke dalam tanah dan satu buku ada di atas permukaan tanah. Satu lubang tanam ditanami dua stek. Setelah penancapan tanah ditekan rapat supaya stek tidak mudah rebah dan kering dan memudahkan calon akar untuk tumbuh. Setelah penanaman diusahakan agar rumput yang baru ditanam mendapat pengairan pada hari yang sama kalau tidak turun hujan harus disiram. Keuntungan penanaman dengan stek di antaranya cara penanaman dan pengangkutan lebih mudah serta stek lebih tahan lama dan dapat disimpan di tempat yang sejuk. Namun sayangnya, stek tidak tahan injak dan renggutan. Berikut beberapa jenis rerumputan yang direkomendasikan penanamannya dengan cara stek di antaranya Pennisetum purpureum 'Napier' (rumput gajah), Pennisetum purpureum 'Matt' (rumput gajah super/rumput odot), dan Pennisetum hybrids 'King' (rumput raja).

 

Penanaman dengan sobekan rumpun (pols) diperoleh dari sobekan rumpun yang sehat dan tidak terlalu tua, terdiri dari dua individu tanaman. Pecahan rumput tersebut masih mengandung cukup banyak akar serta calon anakan baru. Sebelum ditanam, dilakukan pemangkasan 40% dari bagian vegetatif (terutama daun) untuk menghindarkan penguapan yang berlebih sebelum akar dapat menyerap air. Pemangkasan juga dilakukan pada bagian akar untuk merangsang pertumbuhannya. Keuntungan dari penanaman dengan pols lebih cepat tumbuh daripada bahan yang berasal dari stek dan biji. Jenis rerumputan yang dapat dilakukan dengan pols sangat banyak. Berikut beberapa yang direkomendasikan adalah Andropogon gayanus (rumput gamba), Brachiaria bhzantha 'Marandu' (rumput bebe varietas marandu), Brachiaria bhzantha 'Karanga' (rumput bebe varietas karanga), Brachiaria bhzantha 'Serengeti (rumput bebe varietas serengeti)', Brochiaria decumbens 'Basilisk', Panicum maximum 'Si muang' (rumput benggala varietas si muang), Paspotum atrotum 'Terenos', Paspolum guenoarum 'Bela Vista', Setaria sphacelate 'Solander' dan Setariasphacelate var. splendido 'Lampung' (rumput setaria varietas splendida Lampung).

 

Stolon adalah cara penanaman dengan menggunakan potongan batang yang merayap atau batang yang berhimpit dengan tanah. Cara penanamannya adalah ruas bagian bawah dimasukkan ke dalam tanah karena akan tumbuh akar. Pada stolon bibit rumput berkedudukan berbaring pada tanah dan akan tumbuh menyebar dan membentuk suatu rumpun baru. Berikut beberapa jenis rerumputan yang direkomendasikan penanamannya dengan cara stolon di antaranya Brachiaria humidicola 'Tully' (rumput beha varietas tuli), Brachiaria humidicola 'Yanero' (rumput beha varietas yanero), Brachiaria mutica 'Para' (rumput malela varietas para), Brachiaria ruziziensis 'Ruzi (rumput ruzi)', Digitaria milanjiana 'Ja rra' dan Stenotophrum secundatum 'Vanuatu'.

 

Secara generatif, penanaman hijauan menggunakan biji. Untuk mengembangkan hijauan dengan biji, petani memerlukan biji yang berkualitas baik. Perlu untuk memperhatikan biji yang digunakan. Sebagai informasi, rerumputan cenderung berbunga dalam rentang waktu yang panjang. Pada saat panen, apa yang nampak sebagai biji sebenarnya terdiri dari campuran kuncup bunga, bunga, struktur benih yang hampa dan biji yang sebenarnya (struktur biji yang berisi kariopsis). Biji yang sebenarnya (true seeds) meliputi juga biji yang belum masak, tetapi hanya biji yang berisi sebuah kariopsis masak ('biji masak') yang berkesempatan untuk menghasilkan kecambah. Biji rerumputan dapat ditampi untuk menghilangkan selainnya, sehingga yang tinggal hanya biji masak yang 'bersih'. Legum lebih mudah karena kebanyakan bijinya 'telanjang' dan apa yang nampak sebagai biji adalah biji yang sebenarnya. Juga, biasanya hanya sedikit biji yang belum masak, yang ukurannya lebih kecil, nampak berkerut dan mudah dipisahkan dengan mengayak.

 

Daya Kecambah

 

Untuk daya kecambah sendiri, pada dasarnya tidak ada satupun jenis hijauan yang bijinya akan menghasilkan perkecambahan 100 persen. Untuk daya kecambah pada biji rerumputan yang bersih berkisar 20–40%. Sedangkan daya kecambah pada biji legum yang bersih berkisar 40–80%. Persentase daya kecambah yang rendah disebabkan oleh berbagai hal di antaranya dormansi pada biji rerumputan, kondisi biji keras pada legum serta kondisi penyimpanan yang buruk.

 

“Dorman“ artinya “tidur” atau beristirahat. Para ahli biologi menggunakan istilah itu untuk tahapan siklus hidup, seperti biji dorman yang memiliki laju metabolisme yang sangat lambat dan sedang tidak tumbuh dan berkembang. Biji rerumputan yang belum lama dipanen tidak akan segera berkecambah bila ditanam. Keadaan ini disebut "dormansi". Dormansi pada biji meningkatkan peluang bahwa perkecambahan akan terjadi pada waktu dan tempat yang paling menguntungkan bagi pertumbuhan biji. Lama waktu di mana biji dorman masih hidup dan mampu berkecambah bervariasi. Umumnya dormansi akan hilang secara alamiah setelah disimpan 3-6 bulan. Tidak ada cara mudah untuk menguji dormansi biji rerumputan dan juga tidak mudah untuk mengatasinya. Pada umumnya dormansi tidak merupakan masalah karena biji yang dipanen tahun ini tidak akan ditanam sampai tahun depan. Jenis rerumputan yang dormansinya tinggi adalah Brachiaria brizantha, B. decumbens, dan B. humidicola. Legum yang dormansinya tinggi adalah Arachis pinto':

 

Biji legum mempunyai kulit yang cukup keras. Biji beberapa spesies legum tidak akan cepat berkecambah karena adanya kulit biji yang keras, yang menghalangi masuknya air ke dalam biji. Seperti yang diketahui, kecepatan perkecambahan banyak dipengaruhi oleh serapan air, aktivitas enzim, pertumbuhan embrio, pecahnya kulit, terbentuknya tanaman kecil dan usaha memperkuat tanaman kecil tersebut. Permeabilitas kulit biji legum pakan merupakan faktor penghambat utama dalam perkecambahan. Salah satu cara yang digunakan petani adalah dengan menanam campuran biji 'keras' dan 'Iunak' sehingga dapat memberikan keuntungan karena tidak semua biji akan langsung berkecambah. Biji 'keras' akan menjadi 'Iunak' dalam tanah dan akan berkecambah pada saatnya. Selain itu juga dapat dilakukan skarifikasi secara fisik, kimia dan mekanik. Skarifikasi merupakan salah satu upaya pretreatment atau perawatan awal pada benih, yang ditujukan untuk mematahkan dormansi, serta mempercepat terjadinya perkecambahan biji yang seragam. Skarifikasi dapat dilakukan dengan cara mekanik seperti mengikir atau menggosok kulit benih dengan amplas. Skarifikasi fisik dapat dilakukan dengan cara merendam benih legum dengan air panas. Perlakuan fisik dengan perendaman air panas dilakukan dengan cara merendam benih selama 10 menit. Hal ini ditujukan agar benih menjadi lebih lunak sehingga memudahkan terjadinya proses perkecambahan.

 

Biji itu hidup tetapi akan cepat mati bila tidak dikeringkan dengan baik dan disimpan dalam kondisi kering dan dingin. Faktor yang paling penting adalah menjaga agar kadar air biji tetap kurang dari 10 persen. Untuk setiap persen kenaikan kadar air biji di atas 10 persen, masa simpan menjadi hanya separuhnya. Perlu untuk diperhatikan bahwa biji yang dibiarkan dalam kantong terbuka atau dalam lemari es akan cepat mati. Biji harus kering dan disimpan dalam kantong plastik tebal atau kaleng yang tertutup rapat. Dalam penyimpanan harus dilindungi agar tidak mengisap uap air dari udara. Hal ini penting terutama bagi biji rerumputan (karena lembek dan mudah mengabsorbsi uap air) dan bagi biji legum yang sudah diskarifikasi untuk memudahkan uap air dapat memasuki benih. Dalam kondisi lembab, benih ini akan cepat mengabsorbsi uap air dari atmosfir dan akan mati paling lambat dalam waktu 3 bulan.

 

Selanjutnya, penanaman dengan biji harus dengan dosis yang tepat. Dosis tanam biji berkualitas baik harus pada kisaran 2-5 gram per 10 m larikan. Dengan dosis ini, Anda akan menanam sekitar 40-200 biji per meter larikan. Dosis ini merupakan awal yang baik bagi evaluasi di lapangan. Biji-biji yang lebih kecil (misalnya Panicum maximum) harus ditanam dengan dosis lebih rendah, sedangkan biji yang lebih besar (misalnya Centrosema pubescens) dengan dosis yang lebih tinggi. Biji berdaya kecambah tinggi ditanam dengan dosis yang lebih rendah sedangkan biji berdaya kecambah rendah harus ditanam dengan dosis yang lebih tinggi. Jumlah biji per gramnya setiap jenis bervariasi tentunya tergantung ukuran biji tersebut. Untuk jenis rumput bebe (Brachiaria brizantha), yang memiliki ukuran biji sedang, jumlah biji per gramnya sekitar 100–150 biji. Ukuran biji yang kecil seperti Andropogon gayanus 'Gamba' jumlah biji per gramnya sekitar 500–700 biji. Pada rumput Digitaria milanjiana 'Jarra' jumlah biji per gramnya berkisar 1800–2200 biji. Sedangkan pada ukuran biji yang besar, seperti legume Arachis pintoi 'Amarillo', 'Itacambira' jumlah biji per gramnya sebanyak 6–8 biji.

 

Kemudian pada penanaman biji, pengelolaan tanah haruslah secara baik. Hal ini perlu diperhatikan, biji yang berukuran kecil akan mudah terbenam ke dalam tanah sehingga sulit bagi kecambahnya yang kecil untuk muncul ke permukaan tanah. Tanamlah biji dekat permukaan tanah namun tidak terlalu dalam. Bila biji hijauan yang kecil hanya disebarkan di atas permukaan tanah, maka akan mudah tercuci oleh hujan lebat, dibawa semut atau mati oleh kondisi panas dan kering. Selain itu penyiapan lahan harus dengan baik dan halus, dibuat larikan yang dangkal di permukaan tanah dengan tongkat kecil. Kemudian biji ditanam pada larikan dan setelahnya ditutup dengan tanah secara tipis. Tekan tanah di atas biji dengan cara berjalan di atasnya. Selanjutnya, lindungi tanaman dari gulma dan erosi. Ir. Amirudin Aidin Beng, MM/ Suwarna, SP/dari berbagai sumber

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162