Loading...

Teknis Praktis Mengusir Flu Burung pada Ternak Unggas

17:01 WIB | Monday, 11-April-2016 | Mimbar Penyuluhan | Penulis : Kontributor

Beberapa hal teknis praktis yang harus diperhatikan peternak unggas dalam  mengusir  penyakit  unggas Avian Influenza (AI/flu burung) dan lainnya adalah Vaksinasi, biosekuriti, serta deteksi, lapor dan respon (DLR).

 

Munculnya penyakit unggas menjadi tantangan  besar bagi suksesnya usaha perunggasan. Perkembangan penyakit unggas di lapangan cukup bervariasi dan dapat memberikan efek buruk bagi dunia perunggasan. Beberapa penyakit unggas memiliki pola yang sama tiap tahunnya dan beberapa penyakit yang lain berubah-ubah karena sifat virus yang sering bermutasi seperti Avian Influenza (AI).

 

Pengendalian penyakit Avian Influenza (AI) atau flu burung di Indonesia tidaklah semakin mudah. Melakukan kegiatan budidaya unggas di waktu mendatang sudah tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara di masa lampau. Ayam sekadar dikandangkan diberi pakan dan minum tanpa sentuhan teknologi, tanpa mengindahkan kaidah-kaidah kesehatan hewan, maka akan berakibat usahanya segera bangkrut.

 

Karena itu, untuk mencegah/menekan resiko kejadian kasus AI dan penyebarannya, yang sangat krusial dilakukan adalah mencegah dan mengendalikan kejadiannya di peternakan, serta dibarengi memutus mata rantai penyebaran virus AI, khususnya di rantai perdagangannya (pasar). Sedangkan di tingkat peternak, poin yang mutlak diperhatikan adalah vaksinasi, biosekuriti, serta deteksi, lapor dan respon (DLR). Ketiganya penting dilaksanakan secara pararel (bersamaan) dan kontinyu di kandang.

 

Program Vaksinasi AI. Vaksin AI yang beredar saat ini yang resmi beredar adalah vaksin clade 2.1.3 dan vaksin clade 2.3.2. Selain dua jenis vaksin tunggal tersebut, kini tengah dalam proses uji dan registrasi vaksin bivalen, yaitu vaksin mengandung kedua clade dalam satu produk. Menurut ahli virologi, kandungan dan konsentrasi dua jenis virus harus seimbang agar efektif terhadap clade 2.1.3.2 maupun clade 2.3.2.1. Adapun kaidah 3 tepat vaksin menjadi kunci keberhasilannya yaitu :

 

1. Tepat Produk.  Adalah memilih produk vaksin yang tepat, antara lain strain vaksin yang cocok dengan virus yang bersirkulasi di lapangan (homolog) dan lulus uji tantang. Berikutnya, kandungan antigen di dalam vaksin yang diberikan cukup, artinya 1 dosis penuh diberikan sesuai petunjuk aplikasi yang disarankan produsen.

 

2. Tepat Jadwal. Pada layer (ayam petelur), jadwal yang tepat adalah mengikuti rumus 3 + 2, yaitu 3 kali di fase sebelum bertelur (pullet) dan 2 kali selama periode produksi. Tujuannya untuk mencapai titer antibodi sesuai yang diharapkan, yang protektif. Pada broiler (ayam pedaging), vaksinasi AI pada broiler terutama disarankan pada kawasan dengan resiko tinggi, populasi padat, atau saat cekaman iklim yang berat. Umur rawan serangan AI adalah 22–35 hari, karena itu disarankan vaksinasi di umur 1–4 hari atau paling lambat pada umur 10 hari.

 

3. Tepat Teknik. Teknik vaksinasi yang tepat meliputi penggunaan peralatan yang bersih, jarum suntik yang tajam, penanganan ayam yang lembut atau tidak kasar sehingga mencegah stress, serta adanya kerjasama tim di kandang. Vaksin dipastikan kemasannya masih utuh, belum kadaluarsa dan secara fisik belum berubah.

 

Monitoring Titer Antibodi. Program vaksinasi AI akan komplit bila kemudian diikuti dengan evaluasi dan monitoring titer antibody pasca vaksinasi. Selain membantu peternak memantau status kesehatan ayam di saat pemeriksaan, pemantauan yang dilakukan rutin dari periode ke periode hasilnya akan memberikan gambaran pola grafik titer pada peternakan tersebut.

 

Biosekuriti. Program vaksinasi yang komplit di sebuah peternakan hanya akan sia-sia dan membuang waktu, tenaga, pikiran serta dana bila tak dibarengi dengan manajemen kandang yang memadai, utamanya dalam soal biosekuriti. Kegiatan biosekuriti dilakukan dengan menerapkan 3 prinsip yaitu isolasi, pengaturan lalu lintas dan sanitasi.

 

Kementerian Pertanian RI melalui Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan telah mengembangkan model biosekuriti sederhana tapi efektif. Konsep yang diistilahkan dengan “Biosekuriti 3 Zona”.  Prinsip utama konsep ini adalah menjaga kuman dari luar masuk ke peternakan.

 

1. Zona Hijau. adalah jantung dari peternakan yaitu kandang tempat hidup ayam. Untuk masuk zona ini wajib gosok dan membersihkan diri dan hanya peralatan steril yang boleh ada di dalamnya, karena diasumsikan seluruh dunia luar penuh dengan kuman. Ini juga yang dituntut di dalam kandang.

 

2. Zona Kuning, area transisi antara zona hijau (bersih) dengan zona merah (kotor). Akses hanya dibatasi untuk kendaraan yang penting seperti truk pakan, DOC atau telur.  Benda-benda masuk zona ini sudah dibersihkan dan didisinfeksi. Zona ini lokasi menyimpan egg tray/peti yang sudah bersih.

 

3. Zona Merah, adalah dunia luar. Ilustrasinya seperti kolam penuh agen penyakit yang siap membunuh ayam. Ini lokasi menerima dan menyimpan egg tray pasca dicuci dan dikeringkan.

 

Deteksi, Lapor dan Respon, Bila terjadi kematian ayam atau penurunan produksi telur yang tidak normal, terutama pada induk tua (umur > 50 minggu) atau pada grower muda (< 8 minggu), maka segera melapor. Beberapa langkah yang harus dilakukan meliputi :

 

1. Mengubur atau membakar bangkai  ayam yang mati kedalamannya minimal 1,5 m, sebaiknya disemprot desinfektan dan ditaburi kapur aktif;

 

2. Semua peralatan dicuci sempurna dengan deterjen dan desinfektan;

 

3. Pekerja sebaiknya mandi dan keramas sebelum ke luar area kandang dan baju serta perlengkapan direndam dalam deterjen.

 

Dan setelah ayam panen atau afkir, proses istirahat kandang menuntut penanganan yang memadai.

 

1. Liter dan kotoran dimasukkan karung kemudian disemprot desinfektan dan segera dikeluarkan;

 

2. Kandang yang telah kosong dibersihkan dan didesinfektan bagian dalam dan luar. Caranya adalah dengan menyemprotkan air bertekanan tinggi serta menyikat lantai, dinding dan bagian lainnya dengan larutan deterjen;

 

3. Berikutnya adalah menyemprotkan desinfektan. Sebaiknya dipilih desinfektan dengan spectrum luas. Penyemprotan dilakukan dengan kandang dalam tirai tertutup;

 

4. Peralatan dicuci bersih dengan larutan deterjen, kemudian dijemur, dan setelah kering disemprot dengan desinfektan;

 

5. Sesuai kaidah medis, idealnya kandang dikosongkan (istirahat kandang) selama 3 bulan. Tetapi dengan alasan ekonomis dan efisiensi, istirahat umum dipersingkat setidaknya 2 minggu. (Penulis : Suwarna- Penyuluh Pertanian Pusat/dari berbagai sumber).

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162