Loading...

Ekspedisi Barantan : Mengulik Potensi Besar Pertanian Pulau Wetar

22:37 WIB | Wednesday, 11-July-2018 | Karantina | Penulis : Tiara Dianing Tyas

Aneka ragam potensi pertanian Pulau Wetar belum terjamah transportasi

Sebagai salah satu pulau terluar di Indonesia, Pulau Wetar ternyata memiliki potensi besar di bidang pertanian. Hal tersebut terungkap saat Kementerian Pertanian (Kementan) melalui tim ekspedisi Badan Karantina Pertanian (Barantan) bergerak ke Pulau Wetar untuk menggali potensi wilayah dan kehidupan di pulau ini, Senin (9/7).

 

Wetar, merupakan salah satu pulau di Maluku Barat Daya. Wetar berbatasan laut dengan Timorleste. Dari Australia pun tidak terlalu jauh. Wetar terdiri atas 4 kecamatan, yaitu Kecamatan Wetar, Wetar Utara, Wetar Barat, dan Wetar Timur. Dari 4 kecamatan, terdapat 23 desa dimana satu desa ada di pulau sendiri, yaitu Pulau Lirang.

 

Tim Ekspedisi Barantan pun berkesempatan menggali beragam potensi pertanian disana dengan bertemu tokoh masyarakat, camat, lurah, kepolisian, sahbandar, TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Darat, petani, peternak, masyarakat, dan pihak pertambangan yang ada di Wetar.

 

Masyarakat Wetar sangat ramah. Kebanyakan mereka bekerja di perusahaan tambang. Selain itu, banyak juga nelayan, petani, dan peternak. Pertanian dan peternakan di Wetar semakin maju seiring dengan keberadaan perusahaan tambang tembaga di Wetar.

 

"Mereka (masyarakat) menjual hasil tani dan ternaknya ke perusahan Batutua Tembaga Raya (BTR), selain untuk kebutuhan sendiri. Kami lakukan pembinaan dan pendampingan dalam beternak dan bertani," kata Supervisor External Affair PT BTR, Merlin Jacobus.

 

Kepala Desa Lurang, Nikodemus mengungkapkan daerahnya banyak menghasilkan ayam potong, telur, kambing, babi, dan sapi. "Sayuran seperti brokoli, kangkung, bayam, kol kepala, dan kelapa juga banyak. Buah juga ada, jeruk dan jambu mede," tambahnya.

 

Kendala Transportasi

 

Namun, potensi besar tersebut masih belum bisa terpasarkan baik karena transportasi masih belum menjangkau Wetar. Dari 23 desa, hanya ada satu jalan darat. Itupun hanya mampu menghubungkan 2 desa, yaitu Desa Lurang dan Desa Ilwaki. Sedangkan akses menuju desa lainnya mereka mengandalkan kapal cepat atau kapal tradisional masyarakat yang juga bergantung pada kondisi ombak yang menantang.

 

"Di Wetar ada 4 pelabuhan resmi sebagai tempat sandar kapal perintis dan speed boat, serta pelabuhan khusus tambang milik perusahaan tambang. Kapal perintis terjadwal 7-11 hari sekali sandar di pelabuhan, tergantung kondisi laut," terang Kepala Wilker Pelabuhan Leurokis, Wetar Utara, Giovanni.

 

Instansi pemerintah pun baru ada beberapa seperti Polsek Wetar (membawahi 4 kecamatan), Pos AL, Koramil, Brimob Khusus PT. BTR, Sahbandar, kantor camat, dan kantor desa di Wetar. Belum ada perwakilan kantor dinas, beacukai, imigrasi, maupun karantina.

 

"Sampai saat ini belum ada pelayaran resmi baik dari Wetar ke Timor Leste maupun Australia dan sebaliknya. Jarak bisa ditempuh hanya 30 menit - 1 jam dari Wetar Barat ke Timorleste. Ke Australia, waktu tempuhnya 1-2 hari saja," tambah Giovanni.

 

Kendala transportasi inilah yang membuat lalu lintas komoditas pertanian di Wetar masih belum maksimal. Masyarakat masih mengandalkan perusahaan tambang sebagai pasar jual utama. Bahkan, perusahaan tambang harus menanggung kelebihan pasokan produk pertanian dari masyarakat yang akhirnya terbuang.

 

"Wetar adalah salah satu wajah Indonesia dengan masyarakatnya yang membanggakan. Saya yakin Wetar akan menjadi wajah yang penuh kegembiraan bila semakin maju pertaniannya dengan peningkatan sarana transportasi, komunikasi, instansi pemerintah dan sangat potensial untuk menjadi wilayah perdagangan/transit internasional atau Free Trade Area dimasa mendatang," terang Apris Beniawan bersama Wignya Kusuma, Nanang Handayono, dan Sai'in Purnomo, Tim Ekspedisi Badan Karantina Pertanian ke Pulau Wetar.  TIA

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162