Loading...

Kedelai Biosoy, Bikin Asoy Pengrajin Tahu Tempe

09:54 WIB | Friday, 13-July-2018 | Non Komoditi, Sarana & Prasarana | Penulis : Tiara Dianing Tyas

Pengrajin tempe dan tahu ternyata punya kriteria sendiri untuk bahan baku kedelai yang digunakan. Umumnya mereka lebih suka kedelai berbiji besar. Peluang inilah yang ditangkap Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbang Pertanian) untuk merakit varietas Biosoy 1 dan Biosoy 2.

 

Hal tersebut dilakukan sebagai upaya meningkatkan produksi nasional kedelai. “Petani, pengrajin tahu dan tempe, juga masyarakat suka dengan kedelai berbiji besar bobot sekitar 20 gr/100 biji karena mirip dengan biji kedelai impor,” kata Kepala Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB Biogen), Mastur saat diwawancarai Tabloid Sinar Tani Online, Senin (2/7).

 

BB Biogen telah melakukan program perbaikan genetik kedelai melalui evaluasi plasma nutfah, peningkatan keragaman melalui mutasi, persilangan, dan seleksi. Dari hasil perbaikan genetik tersebut akhirnya dilepas menjadi varietas unggul baru (VUB) Biosoy 1 dan Biosoy 2. Keduanya memiliki potensi hasil 3,3 ton/ha dan Biosoy 2 memiliki potensi hasil 3,5 ton/ha. Potensi hasil ini lebih besar sekitar 20% dari varietas Grobogan dan sekitar 18% dari varietas Anjasmoro.

 

Kedua varietas ini memiliki stabiltas hasil yang luas di berbagai lokasi pengujian. Galur Biosoy 1 dan Biosoy 2 memiliki umur 83-84 hari, atau 7-8 hari lebih lama (masak polong) dari varietas Grobogan tetapi memiliki 3-4 hari lebih genjah dari varietas Anjasmoro.

 

Biosoy 1 dan 2 memiliki jumlah polong yang lebih banyak dibanding varietas Grobogan, namun lebih sedikit dibanding jumlah polong varietas Anjasmoro. Keunggulan yang terlihat langsung dari kedua varietas terbaru ini adalah ukuran yang lebih besar dibandingkan varietas kedelai yang selama ini menjadi kesukaan petani juga pengerajin tahu dan tempe yakni Grobogan dan Anjasmoro.

 

Ukuran biji terlihat dari bobot 100 butir biji Biosoy 1 dan Biosoy 2 masing-masing  21,74 dan 22,35 gr/100 biji. Ukuran tersebut jauh lebih besar dibanding Anjasmoro (16,14 g/100 biji) dan juga lebih besar dari Grobogan (20,72 gr/100 biji). 

 

Dilihat dari ukuran batang, varietas Biosoy 1 dan Biosoy 2 memiliki batang yang besar dan kokoh yang dicirikan oleh diameter batang yang lebar jika dibandingkan pendahulunya.

 

Diharapkan pada Musim Tanam II 2018 dan Musim Tanam 2019 benih pokok dan benih dasar kedua varietas ini sudah dapat didistribusikan ke petani-petani penangkar terutama disentra-sentra produksi kedelai di Indonesia untuk diproduksi lebih lanjut sebagai benih dasar, benih pokok dan benih sebarnya.

 

“Diharapkan bensih sebar kedua varietas itu dalam kurun waktu tidak lama sudah dapat didistribusikan ke petani di berbagai wilayah Indonesia, sehingga berdampak terhadap peningkatan produksi nasional kedelai menuju swasembada kedelai tahun 2020,” kata Mastur. Tia/Yul/Ditjen PSP

Editor : Ahmad Soim

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162