Loading...

Kehilangan Hasil Panen Masih Jadi Masalah Negara Asean

14:42 WIB | Tuesday, 06-February-2018 | Olahan Pasar, Non Komoditi | Penulis : Kontributor

 

 

Kehilangan hasil panen ternyata masih menyelimuti negara-negara di Asean. Untuk mengatasi persoalan tersebut sepuluh negara yang tergabung dalam ASEAN, Senin (5/2) membahas kehilangan hasil pasca panen (Post Harvest Losses) yang berlangsung di Bogor selama 4-7 Februari 2018 dalam pertemuan Regional Consultation (RC).

 

Acara tersebut membahas lebih lanjut terkait proyek kerjasama ASEAN dalam mengurangi kehilangan hasil untuk produksi dan produk pertanian di wilayah ASEAN dibiayai oleh Japan-ASEAN Integration Fund (JAIF). Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Perekonomian, Musdhalifah Machmud, mengatakan, tingkat kehilangan hasil pada kegiatan pasca panen secara global maupun nasional masih tinggi.

 

Kehilangan hasil produksi pada kegiatan pasca panen dan penyimpanan di tingkat global bisa mencapai 54%, tingkat pengolahan, distribusi dan konsumsi sekitar 46%. “Sementara itu tingkat kehilangan hasil produksi pasca panen secara nasional masih di atas 20% rata-rata per tahun,” katanya.

 

Kepala Bidang Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian, Evi Savitri Iriani mengatakan, kehilangan hasil pada komoditas pertanian bisa berdampak negatif pada sektor ekonomi. Sebab dapat menyebabkan penurunan pendapatan di tingkat petani.  

 

“Sebagai upaya penurunan tingkat kehilangan hasil produksi akan dilakukan kegiatan pilot project penurunan susut pasca panen di tiga negara Asean yakni Indonesia, Thailand dan Vietnam,” katanya.

 

Sebagai wakil Indonesia, peneliti utama Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Badan Litbang Pertanian, Dr. Ir. S. Joni Munarso, MS, mengatakan, kegiatan pilot project penurunan susut pasca panen di Indonesia akan mengambil komoditas cabai.

 

Hasil penelitian, komoditas cabai dapat mengalami susut pasca panen sebesar 2.5% saat panen, 9-10,2% ketika proses transportasi ke pengumpul kecil, 6-7,2% sortasi, 9,6-14,5% pasar menengah dan 3-7% pengiriman ke pasar pusat. Permasalah pada cabai yaitu penyakit yang ditimbulkan saat pasca panen karena suhu saat proses penyimpanan yaitu anthracnose.

 

“Titik krisisnya berada di pengumpul besar dan pasar, saat didistribusikan dengan transportasi biasanya menggunakan truk menyebabkan kerusakan mekanis serta teknologi kemasan yang digunakan masih tradisional dengan menggunakan karung” tutur mantan Kepala BPTP Jawa Tengah ini.

 

Joni Munarso mengatakan, kegiatan pilot penurunan susut pasca panen yang akan diterapkan di Kabupaten Magelang. Teknologi yang diterapkan adalah pengepakan Modified Atmosphere Packaging (MAP) yang bisa dikerjakan di tingkat pengumpul kecil, besar dan pasar. Teknologi ini diperdiksikan dapat membuat cabai bertahan selama 2-4 minggu.

 

“Teknologi itu memang kemungkinan akan ada kenaikan harga. Namun berapa persen belum tahu, tunggu Agustus, karena masih riset dan menghitung berapa jumlah loss-nya dan berapa nilai investasinya,” kata Joni.

 

Sementara itu Thailand akan menerapkan pada komoditas Nanas Phulae dan Nanas Nanglae (Ananas comosus L. Merr.). Teknologi yang digunakan untuk penyimpanan menggunakan icing container for storage dan cold room.  “Nanas produksi Thailand sudah di ekspor ke China dengan teknologi kontainer berpendingin untuk transportasi ke China yang memakan waktu tiga hari,” kata peneliti School of Agro-Industry May Fah Luang University, Dr. Niramon Suntipabvivattana. Yusrina

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162