Loading...

e-paper Tabloid Sinar Tani - Kelola Air Hadapi Kemarau

11:25 WIB | Wednesday, 04-July-2018 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar Tani - Kelola Air Hadapi Kemarau

 

Musim kemarau akan menjemput petani-petani di Indonesia, khususnya yang berada di sentra pangan. Karena itu harus diantisipasi sejak dini agar petani tak merugi akibat gagal panen karena kekeringan.

 

Data Badan Meteorologi, Klimatalogi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, wilayah bagian selatan Indonesia seperti Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Kalimantan bagian selatan pada Juni-Oktober (Musim Kemarau/MK 2) merupakan puncak musim kemarau. Sedangkan daerah yang diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal sebagian besar bagian selatan Sumatera, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan bagian selatan Sulawesi, Kalimantan dan Papua.

Sementara Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (Balitklimat) memprediksi sifat hujan pada Agustus-Oktober 2018 di bawah normal pada sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan bagian selatan Sulawesi. Di beberapa daerah yang diprediksi tersebut hingga sampai akhir Juni tidak bisa tanam karena air yang tidak mencukupi untuk tanam.

Ada sekitar 380.556 ha sawah baku (4,7%) yang mengalami curah hujan rata-rata kurang dari 60 mm/bulan, sehingga tidak mungkin ditanami (bera). Bahkan ada sekitar 2.441.207 ha sawah baku (30,0%) diprediksi mengalami curah hujan rata-rata antara 60-100 mm/bulan. Lahan itu masih bisa ditanami padi asalkan ada sumber air alternatif.

Kepala Kelompok Peneliti Agroklimat Balitklimat, Yayan Apriyana mengatakan, pada puncak musim kemarau di wilayah Indonesia perlu diwaspadai untuk daerah-daerah yang rentan terhadap bencana kekeringan. “Periode MK 2 umumnya tidak disarankan melakukan budidaya, kecuali di daerah yang sumber irigasinya terjamin atau tersedia sumberdaya air alternatif,” ujarnya.

Karena itu Yayan menyarankan, jika tidak memiliki sumber air alternatif maka sebaiknya petani menanam jagung atau kedelai atau komoditas tanaman semusim lainnya yang tidak membutuhkan air yang banyak. Dengan demikian, optimalisasi penanaman pada MK dapat dilakukan pada wilayah dengan peluang curah hujan kurang dari 50 mm seperti di sebagian besar Pulau Sumatera dan Kalimantan. 

Namun lanjut Yayan, kondisi hujan yang rendah pada musim kemarau bukan berarti tidak bisa melakukan tanam sama sekali. Jika tetap akan melakukan penanaman pada MK, tentu harus didukung infrastruktur air yang memadai. Sedangkan pada lahan sawah irigasi, penanaman dapat dilakukan pada daerah yang irigasinyanya terjamin sepanjang tahun.

“Pada daerah yang curah hujannya cukup tinggi dengan kondisi jaringan irigasi yang baik dapat dikembangkan untuk penanaman IP300 untuk padi. Sedangkan untuk lahan sawah tadah hujan dan lahan kering dapat dimanfaatkan untuk palawija dan sayuran,” tuturnya.

Untuk mengurangi risiko gagal tanam dan gagal panen perlu menggunakan informasi prediksi iklim. Infromasi prediksi iklim tersedia dari yang bersifat global seperti prediksi peluang El Nino dan La Nina. Berdasarkan prediksi iklim untuk pertanian dapat diakses pada website Balitklimat balitklimat.litbang.pertanian.go.id

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162