Loading...

Kriteria Perluasan Areal Tanam Diperluas

10:01 WIB | Friday, 13-July-2018 | Non Komoditi, Sarana & Prasarana | Penulis : Clara Agustin

Laju konversi lahan pertanian, khususnya sawah menjadi ancaman tersendiri dari upaya pemerintah meningkatkan produksi pangan. Karena itu, pemerintah secara khusus memprogramkan perluasan sawah di lahan sub optimal.

 

Meski prioritas utama perluasan areal adalah lahan kering dan lahan rawa, namun Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Gatot S. Irianto mengatakan, bukan hanya kedua lahan tersebut yang dapat dimanfaatkan untuk tanam padi, jagung dan kedelai.

 

Menurutnya, kriteria untuk perluasan areal tanam baru tahun ini tidak semuanya harus di lahan yang benar-benar baru. Tetapi dapat memanfaatkan lahan ladang, di bawah tegakan, perkebunan tahunan, lahan yang belum dimanfaatkan (lahan tidur), lahan pekarangan, lahan pergantian komoditas dan areal pematang (galangan).

 

“Bahkan di salah satu daerah ada yang menanam jagung di areal pekuburan,” kata Gatot. Contoh-contoh daerah yang kini telah memanfaatkan lahan-lahan yang ada di sekitarnya yakni di Desa Muara Meyan 1, Kecamatan Megang Sakti, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan memanfaatkan lahan tegalan untuk tanam jagung seluas 4 ha.

 

Di Desa Gemiung, Kecamatan Buana Pemaca, Kabupaten OKU, Sumatera Selatan memanfaatkan lahan perkebunan sawit untuk tanam jagung seluas 100 ha. Di Desa Sungai Payang, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan menanam jagung seluas 2 ha di lahan tidur. Begitupula di Desa Sumber Karya, Kabupaten Lahan, Sumatera Selatan memanfaatkan lahan tidur untuk menanam jagung seluas 15 ha.

 

Sedangkan di Ambarawa, Jawa Tengah dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat petani memanfaatkan lahan pematang sawah untuk menanam kedelai. Sementara di Desa Sukahuri, Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, Jawa Barat melakukan pergantian tanam dari tanaman cabai ke tanaman jagung.

 

 

 

Lahan Kering dan Lebak

 

Selama ini memang lahan sub optimal yang dimanfaatkan pemerintah untuk perluasan areal tanam baru adalah lahan kering dan rawa lebak. “Kita akan melakukan perluasan areal tanam padi di lahan kering dan lahan rawa seluas 2 juta ha. Lalu untuk 4,5 juta ha dan kedelai 1,5 juta ha,” kata Gatot.

 

Lahan kering merupakan salah satu lahan yang potensi besar untuk usaha pertanian. Berdasarkan data, Indonesia memiliki daratan sekitar 188,20 juta ha, terdiri atas 148 juta ha lahan kering dan 40,20 juta ha lahan basah.

 

Meski didominasi lahan kering, ternyata tidak semua lahan kering sesuai untuk pertanian. Dari total luas 148 juta ha, lahan kering yang sesuai untuk budidaya pertanian hanya sekitar 76,22 juta ha. “Lahan kering ini potensinya luar biasa sekali di Indonesia, tetapi sayangnya tidak semua dapat dimanfaatkan bagi pertanian. Makanya target perluasan areal tanam padi di lahan kering untuk tahun ini (2018) hanya 1 juta ha. Itu sama dengan tahun lalu,” papar Gatot.

 

Selain di lahan kering, ungkap Gatot, perluasan areal tanam juga menyasar lahan rawa. Di seluruh Indonesia sekitar 33,43 juta ha lahan rawa. Dari jumlah itu, sebanyak 9,53 juta ha ternyata sesuai untuk kegiatan budidaya pertanian. Hingga saat ini luas lahan rawa yang dimanfaatkan untuk budidaya pertanian baru mencapai sekitar 2,270 juta ha.

 

“Kalau setiap tahunnya kita buka minimal 500 ribu ha, itu akan luar biasa sekali dampaknya bagi produksi padi. Jadi target perluasan areal di lahan rawa seluas 1 juta ha,” kata Gatot.

 

Di Indonesia telah disepakai istilah rawa dalam dua pengertian, yakni rawa pasang surut dan rawa lebak. Rawa pasang surut adalah daerah rawa yang mendapatkan pengaruh langsung atau tidak langsung oleh ayunan pasang surut air laut atau sungai di sekitarnya. Sedangkan rawa lebak adalah daerah rawa yang mengalami genangan selama lebih dari tiga bulan dengan tinggi genangan dan terendah 25-50 cm.

 

Data Badan Litbang Pertanian, lahan rawa pasang surut memiliki luas paling besar, yakni mencapai 20,1 juta ha. Lahan tersebut terdiri atas tipologi lahan potensial seluas 2,1 juta ha, sulfat masam (6,7 juta ha), gambut (10,9 juta ha), dan salin (0,4 juta ha). Sementara itu, luas lahan rawa lebak di Indonesia sekitar 13,3 juta ha. Perinciannya seluas 4,2 juta ha berupa lebak dangkal, 6,1 juta ha lebak tengahan, dan 3,0 juta ha lebak dalam.

 

Secara umum, kategori wilayah pengembangan lahan rawa sangat tergantung pada tiga kondisi yakni, sumber daya lahan, infrastruktur dan sumber daya manusia. Jika ketiga kondisi tersebut kondusif wilayah lahan rawa tersebut layak dikembangkan.

 

“Kalau kita dapat memanajemen pengairan dengan baik. Misalnya dengan memanfaatkan pintu air dan pembuatan dam, saya rasa bisa kita memanfaatkan lahan rawa untuk usaha tani,” ungkap Gatot. Cla/Yul/Ditjen PSP

Editor : Ahmad Soim

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162