Loading...

Membangun Daerah Perbatasan

10:02 WIB | Monday, 12-June-2017 | Editorial, Mentan Menyapa | Penulis : Kontributor

Kita akan membangun daerah perbatasan sebagai lumbung pangan sesuai dengan keunggulan komparatifnya dan budaya masyarakatnya. Alhamdulillah, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama Kementerian Pertanian akan membangun kawasan pangan di perbatasan RI-Timor Leste. Tujuannya untuk menguatkan pangan di NTT dan ekspor pangan ke Timor Leste.

 

NTT berkomitmen membangun kawasan pangan perbatasan RI dengan Timor Leste, tak hanya dari empat kabupaten yang berada di perbatasan yaitu Malaka, Belu, Timor Tengah Utara (TTU) dan Kupang. Pembangunan kawasan perbatasan direncanakan secara mekanisasi dan berdasarkan potensi daerah serta memperhatikan kebutuhan di Timor Leste di mana pada gilirannya akan ekspor kesana sebagai destinasi utama sambil menguatkan pangan di NTT itu sendiri secara berkelanjutan.

 

Lalu ada Kalimantan Barat yang memiliki 5 kabupaten yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia. Ke lima kabupaten tersebut adalah Sambas, Bengkayang, Sanggau, Sintang dan Kapuas Hulu. Potensi lahan pertanian tanaman pangan yang dimiliki khusus daerah yang berada di jalur perbatasan dari lima kabupaten tersebut cukup besar, yaitu mencapai sekitar 500.000 hektar.

 

Potensi lahan yang cukup besar inilah yang akan dimanfaatkan untuk menjadi sentra produksi pangan baru di kawasan perbatasan. Untuk jangka pendek tahun 2017 ini ditargetkan terdapat penanaman padi sekitar 50.000 hektar di seluruh wiayah perbatasan Kalbar. Khusus di kawasan perbatasan Sanggau yang menjadi tempat pelaksanaan acara HPS, diharapkan terdapat penanaman seluas 7.000 hektar padi dan 7.000 hektar jagung. Hasil panen dari pertanaman tersebut diharapkan dapat menjadi sumber beras yang akan di ekspor ke Malaysia pada saat hari pangan sedunia tahun 2017 pada Oktober mendatang. 

 

Tidak hanya NTT dan Kalbar, Kementerian Pertanian mencanangkan program Membangun Lumbung Pangan di Wilayah Perbatasan ini di daerah perbatasan lainnya. Program ini diharapkan dapat mendukung cita-cita pemerintah untuk mencapai kedaulatan pangan hingga ke kawasan perbatasan Tanah Air.

 

Perlu diketahui program ini dicanangkan sesuai amanah Presiden Joko Widodo untuk 'membangun dimulai dari pinggir'. Selain mencegah penyelundupan, investasi pangan di perbatasan pun diyakini dapat menjadi peluang ekspor komoditas ke negara tetangga. Sehingga di perbatasan-perbatasan ini nanti kita bangun sektor pangannya, sinergi dengan Kemendes. Harapan kita, bisa meningkatkan kesejahteraan petani, menekan inflasi di perbatasan, dan bisa ekspor ke negara tetangga terdekat.

 

Seperti Kabupaten Lingga di Kepulauan Riau, kebutuhan berasnya hanya 12.000 ton per bulan. Untuk itu, Kementerian Pertanian langsung memberikan bantuan pencetakan sawah 10.000 ha untuk menghasilkan beras organik yang kelebihannya dapat diekspor langsung ke Singapura.

 

Lalu pengembangan sawah di Kabupaten Merauke yang sudah dirintis sejak 2014 lalu. Saat ini, Kabupaten itu telah mampu mengekspor beras ke Papua Nugini. Beberapa komoditas yang menjadi unggulan yaitu padi, jagung, kedelai, bawang merah, dan sayur-sayuran.

 

Untuk itu, saya mengidentifikasi potensi pengembangan-pengembangan di daerah perbatasan. Untuk tahun ini, saya menargetkan dapat menambah luas tanam (cetak sawah), pengembangan jaringan irigasi, penyediaan alsintan, penyediaan benih dan pupuk, pengembangan padi hibrida dan non hibrida juga padi organik termasuk pengembangan jagung di perbatasan.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162