Loading...

Pasok Pangan ke TTI, Pemerintah Buat Klaster sesuai Agroklimat

07:09 WIB | Saturday, 19-May-2018 | Olahan Pasar, Non Komoditi | Penulis : Julianto

 

 

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian sejak dua tahun terakhir mengembangkan Toko Tani Indonesia (TTI) untuk menjaga stabilisasi harga pangan di tingkat konsumen. Nah, untuk memasok produk pangan tersebut, pemerintah kini mengembangkan sistem klaster komoditas.

 

“Kita kini sedang membangun klaster komoditas pertanian sesuai agrokilmat dan kultur masyarakat setempat. Jadi berdasarkann keunggulan daerah masing-masing,” ujar Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat sidak ke TTI Centre di Jalan Raya Ragunan, Pasar Minggu, Jumat (18/5).

 

Misalnya, pengembangan bawang merah, pemerintah fokus pada sentra-sentra produksi yang kini telah ada. Seperti di Brebes (Jawa Tengah) dan Malang (Jawa Timur). Untuk bawang putih, lokasi yang menjadi prioritas adalah Temangggung (Jawa Tengah) dan Sembalun (NTB). Begitu juga dengan cabai, pemerintah membangun klaster di Magelang (Jawa Tengah).

 

Sedangkan untuk wilayah lain yang memang potensial, seperti Banyuwangi ternyata cocok untuk pengembangan bawang putih, pemerintah juga menggerakkan menjadi sentra baru. “Jadi kita petakan tiap daerah sesuai potensi masing-masing,” ujarnya kepada wartawan.

 

Adanya klaster tersebut, Amran berharap, nantinya petani bisa secara kontinyu memasok produknya ke TTI. Dengan demikian, rantai pemasaran produk pertanian dari petani ke konsumen juga menjadi lebin pendek. Jika sebelumnya mencapai delapan tahap, kini bisa dipangkas tinggal tiga, petani/gapoktan, TTI, lalu ke konsumen.

 

“Petani mendapatkan harga yang layak, konsumen juga untung, karena harga tidak melonjak, seperti saat Ramadhan dan Lebaran,” katanya. Bukan hanya itu lanjut Amran, dampak lebih lanjut adalah tingkat inflasi yang biasanya terangkat karena kenaikan harga pangan, bisa tertahan. Angka kemiskinan, karena selama ini petani mendapatkan harga rendah, juga bisa diturunkan.

 

TTI Online

 

Untuk membantu petani memasok produknya ke TTI, lebih lanjut Amran mengatakan, pemerintah mengembangkan pelayanan melalui sistem online. Nanti dari TTI Centre melakukan pemesanan ke petani secara langsung. Pembayarannya dilakukan Bank BNI.  

 

Sementara itu Kepala Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi mengakui, selama ini memang distribusi pangan terlalu panjang, sehingga sampai kekonsumen akhir harganya mahal. Untuk memutus matarantai distribusi  pangan, Badan Ketahanan Pangan sejak 2016 mengembangkan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM) melalui TTI.

 

Pada 2018 jumlah PUPM berkembang menjadi 1.156  Gapoktan dan 3.000 TTI di 22  provinsi dan pada tahun 2018 ada 20 provinsi yang membangun Toko Tani Indonesia Center (TTIC). BKP melalui Toko Tani Indonesia juga bekerja sama dengan PD PasarJaya membuat TTI di 235 titik pasar di DKI Jakarta. "Melalui TTI dan TTIC, masyarakat dapat membeli bahan pangan berlualitas dan harganya lebih murah dibanding dipasar lainnya," katanya. Yul

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162