Loading...

Pertanian Organik Pangkal Pangan Sehat Masa Depan

14:07 WIB | Sunday, 24-June-2018 | Klinik Teknologi, Inovasi Teknologi | Penulis : Kontributor

Kesehatan manusia tentu saja bergantung pada asupan pangan yang akan dikonsumsinya. Tentunya, hasil pangan  sehat hanya bisa dihasilkan dari tanah yang sehat. Sistem pertanian organik pun bisa menjadi pangkal asupan manusia sehat di masa depan.

 

Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) Prof. Dedi Nursyamsi menuturkan kriteria tanah sehat adalah tanah yang mampu menopang pertumbuhan tanaman/hewan secara maksimal dan bebas dari bahan pencemar dan OPT (Organisme Penggangu Tanaman). Ciri tanah sehat itu produktif yang ditandai dengan tanaman  tumbuh subur diatasnya, biasanya memiliki kandungan C-organik, P dan K tanahg tinggi. Selain itu tanah sehat bebas dari residu pestisida, logam berat, hama dan penyakit tanaman.

 

"Tanah sehat akan menghasilkan tanaman yang sehat, yang sudah pasti akan menghasilkan pangan yang sehat pula," ungkapnya.

 

Lebih jauh Prof Dedi menuturkan, manusia yang mengkonsumsi pangan sehat tentu akan mempunyai kesehatan yang prima dan melahirkan bangsa yang cerdas yang memiliki banyak ide atau gagasan brilian. Dengan begitu maka tanah sehat pasti akan menghasilkan bangsa hebat.

 

Karena itu, tanah yang sehat bisa diperoleh dari penerapan sistem pertanian organik. Hasil berbagai penelitian membuktikan bahwa sistem ini mampu meningkatkan kesuburan tanah yang terlihat dari tingginya kadar C-organik, N, P dan K tanah. Selain itu sistem ini juga terbukti menghasilkan pangan sehat yang berkualitas tinggi sehingga harga jualnya juga tinggi dan petani dapat menikmati keuntungan maksimal.

 

Peneliti Balai Penelitian Tanah (Balittanah) Bogor Diah Setyorini menuturkan produk pertanian organik lebih tahan lama dibandingkan produk pertanian konvensional. Sayuran organik bisa bertahan segar hingga satu minggu jauh lebih tahan lama dibandingkan sayuran konvensional yang baru 2 hari saja sudah layu. “Selain itu sayuran organik juga bebas residu pestisida sehingga aman dikonsumsi," kata Rini menambahkan.

 

Berangkat dari kesadaran pentingnya tanah yang sehat untuk asupan pangan yang sehat, penggiat pertanian organik kini sudah menyebar ke seluruh pelosok tanah air, mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi. Seperti yang diungkapkan Ketua komunitas Gagego Organik, Eny Ferinanta. “Menurut laporan para kordinator wilayah, hasil pertanian organik juga tidak kalah dengan hasil pertanian konvensional," tuturnya.

 

Eny mencontohkan  Poktan Marsudi Among Tani dari Desa Dawuhan, Kec. Banyumas, Kab. Banyumas yang dipimpin oleh Pak Slamet mampu menghasilkan rata-rata padi organik 8.3 t/ha. Hasil ini setara bahkan lebih tinggi daripada padi konvensional. Slamet menggunakan padi varietas Ciherang, fermantasi urin sapi, air kelapa plus mikroba, asam humat, dan pestisida nabati.

 

Tak hanya itu, produk pertanian organik pun sudah masuk pasar modern, seperti di Kota Pati bahkan di kota-kota besar seperti di Jakarta. Contohnya, petani organik asal Cisayong, Tasiklamalaya Kribo Affandi yang bahkan mampu mengekspor padi organik ke mancanegara. Petani yang akrab dipanggil Ibo ini mengatakan bahwa kelompok taninya mengekspor padi organic dengan harga 3 kali lipat dibandingkan harga domestik sehingga petaninya bisa hidup sejahtera. (Laela Rahmi/Balitbangtan).

 

 

 

 

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162