Loading...

e-paper Tabloid Sinar Tani - Waspadai Serangan Ulat ‘Tentara’

10:43 WIB | Wednesday, 20-June-2018 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar Tani - Waspadai Serangan  Ulat ‘Tentara’

 

Bawang merah menjadi komoditas yang mendapat perhatian pemerintah secara khusus. Bahkan Kementerian Pertanian telah mengibarkan bendera swasembada bawang merah berkelanjutan.

 

Namun di tengah upaya pemerintah menggenjot produksi si bumbu dapur tersebut, petani masih dihantui ancaman produksi. Salah satunya hama penyakit yang kerap menjadi ‘tamu’ tak diundang. Ulat grayak menjadi hama yang paling ditakuti petani bawang merah karena ketika sudah menyerang sulit dikendalikan. 

Direktur Tanaman Sayuran dan Obat, Ditjen Hortikultura, Kementerian Pertanian Prihasto Setyanto atau yang akrab disapa Anton menjelaskan, bahwa ulat grayak datangnya musiman. Biasanya ditandai dengan banyak­nya kupu-kupu yang hinggap di tanaman bawang merah saat musim hujan. 

“Kupu-kupu ini akan menyim­pan telurnya di tanaman bawang merah. Begitu menetas jadilah ulat grayak. Daerah yang sering terserang adalah Brebes dan Demak,” kata Anton.

Ulat grayak sendiri biasa disebut dengan army worm (ulat tentara), karena serangannya masif dan cepat seperti tentara. Mengerikannya lagi, ketika menyerang umbi bawang merah, ulat grayak akan bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Lalu menyimpan kembali telurnya di tanaman bawang merah, menetas kembali menjadi ulat grayak. 

“Makanya serangannya ma­sif dan serentak kalau tidak dikendalikan dapat menyebabkan gagal panen. Karena itu rantai siklus hidupnya harus kita putus agar tidak terus-menerus bermetamorfosis,” papar Anton.

Menurutnya, jika tanaman bawang merah sudah terserang ulat grayak, maka sedikit sulit bagi petani mengendalikan hama tersebut. Memang bisa dengan mencabut telurnya satu persatu, tetapi memakan waktu dan tenaga. Karena itu yang efektif ketika sudah diserang adalah menggunakan insektisida sistemik. Sebab jenis insektisida ini tergolong aman untuk tanaman. “Tapi kita harus perhatikan juga dosisnya. Bisa-bisa kalau terlalu berlebihan umbinya tercemar yang pada akhirnya tidak bagus untuk tubuh kita juga,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal Dewan Bawang Merah Nasional, Mudatsir juga mengakui, ulat grayak pada bawang merah merupakan salah satu Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) utama bawang merah. Hama ini dapat menyerang tanaman pada seluruh fase pertumbuhan, sejak keluar daun hingga menjelang panen. 

“Kerusakan akibat serangan ulat grayak pada bawang merah ini dapat mencapai 100% dan menyebabkan gagal panen total,” ujarnya. Bahkan serangan ulat merata hampir seluruh wilayah sentra bawang merah. Baginya, yang menjadi penyebab dari status endemis hama ini adalah siklus/masa tanam yang tidak pernah terputus dan kecerobohan dalam aplikasi pestisida.

Mudatsir melihat, penanganan hama ulat kebanyakan masih bersifat kuratif, bukan preventif. Sementara siklus hidup ulat yang sangat singkat, sehingga keterlambatan penanganan men­jadi tidak optimal.

Di sisi lain petani juga tidak banyak yang paham karakteristik hidup ulat bawang yang bernama latin Spodoptera Exigua, sehingga kadang penanganan tidak tepat. Contoh, ulat bawang bekerja pada malam hari, seharusnya aplikasi pestisida pada sore hari dapat menjadi pilihan waktu yang tepat.

“Rata-rata petani ingin pestisida yang cespleng. Ini dapat dipahami, karena investasi atau modal tanam bawang merah sangat besar bisa 8-10 kali tanaman pangan. Jadi segala cara akan dilakukan untuk menyelamatkan tanaman, agar tidak gagal panen,” tuturnya.

Hal tersebut membuat petani mengaplikasikan pestisida se­ca­ra berlebihan. Akibatnya ha­ma menjadi resisten. “Nah, oleh pabrik pestisida dijawab dengan menaikkan kadar bahan aktif, sehingga masalah ulat ini jadi lingkaran tak berujung,” tambahnya.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162