Loading...

Yuk Gunakan Padi Hibrida untuk Produktivitas Melesat

15:54 WIB | Tuesday, 10-July-2018 | Pangan | Penulis : Clara Agustin

Yuk Gunakan Padi Hibrida untuk Produktivitas Melesat

Produksi dan luas tanam padi masa kini memang tengah mengalami peningkatan, tetapi sayangnya produktivitas mengalami penurunan. Hal ini terjadi karena penggunaan varietas yang tidak sesuai dengan kondisi lahan.

 

"Varietas yang spesifik lokasi ini sebenarnya banyak yang bagus, tetapi sayangnya belum terlalu banyak petani yang menanamnya. Masih didominasi menggunakan Ciherang,” ungkap perwakilan dari PT Dupont Indonesia, Yuana Leksana saat Diskusi Terbatas Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) ‘Produktivitas vs Importasi, Ada Apa?’ di Jakarta, Senin (9/7).

 

Hampir semua petani di Indonesia masih menanam padi menggunakan Varietas Ciherang. Padahal sebenarnya banyak varietas lainnya yang tak kalah unggul dari Ciherang. “Varietas ini (Ciherang) sudah lama sekali diluncurkan. Dan kebanyakan petani masih menggunakannya, padahal hasilnya sudah tidak maksimal dibandingkan ketika pertama kali diluncurkan,” tukas Yuana.

 

Kesukaan petani masih menggunakan padi inbrida seperti Ciherang ini lebih karena mudah dibudidayakan. Yuana mengatakan sebenarnya kalau ingin meningkatkan produktivitas, para petani sebagian lahannya menanam padi dengan menggunakan varietas hibrida. Karena dengan menggunakan varietas hibrida, dapat meningkatkan produktivitas hingga 30 persen.

 

“Di jagung saja hampir 70 persen menggunakan jagung hibrida dan hasilnya mengalami peningkatan yang pesat, hingga 100 persen. Di padi memang masih sedikit sekali yang menggunakan, tetapi hasilnya mengalami peningkatan 30 persen,” terang Yuana.

 

Diciptakannya padi hibrida sebenarnya menjawab apa yang diinginkan petani selama ini. Produksi tinggi, tahan terhadap berbagai macam cekaman, dapat ditanam dimana saja, dan beras yang dihasilkan sesuai dengan selera masyarakat.

 

“Ada 3 komponen dalam penciptaan benih hibrida yang saling berintegrasi, Penelitian-Produksi-Pemasaran. Penelitian, dilakukan penelitian (penciptaan benih hibrida) karena menjawab permintaan pasar (petani). Produksi, yakni dari hasil penelitian tersebut menghasilkan benih yang sesuai dan produsen mulai memproduksinya. Biasanya untuk produksi ini, harus bermitra dengan petani penangkar. Pemasaran, setelah diproduksi benih tersebut dipasarkan,” jelas Yuana.

 

Penggunaan benih hibrida untuk padi, memang masih banyak ditemukan kendalanya, yakni masalah biaya produksi yang terlampau mahal dan sulit untuk ditangkarkan. Yuana mengatakan memang produksi penggunaan benih hibrida ini kalau di lahan yang subur hasilnya bagus tetapi biaya produksi tinggi. Sedangkan di lahan yang kurang subur, biaya produksi rendah tetapi hasilnya rendah.

 

“Ya tetapi kalau kita mampu menjalankan budidaya padi hibrida sesuai prosedur, tidak akan mahal jadinya. Dan memang benih padi hibrida ini tidak dapat ditangkarkan sembarangan harus dengan petani penangkar yang sudah ahli menangkarkan benih hibrida. Tetapi kalau mampu menangkarkan, hasilnya jauh lebih murah,” pungkas Yuana. Cla

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162